Cinta si nyolot dan mr. perfect part 20B : RiFy (LAST PART!!)

"ecieee yang baru jadiann" Goda Ify ke Sivia. Wajah Sivia langsung memerah.

"Ihh. apaan sih? tau dari mana lagiii" ucap Sivia malu. Ify tersenyum.

"Tau doong. KAn Alvin knsultasi ke gue semalem. Upppsss" Ify menutup
mulutnya. kenapa dia ceplas-ceplos begini sih? (Kerjaannya penulis,
ngapain bikin Ify kaya gitu ;p maaf Vin, rahasiamu terbongkar haha)

"Hah?kok bisa? masa sih?" Berondong Sivia.IFy menutup mulutnya sambil
geleng-geleng. Sivia manyun. Ify tersenyum, melepaskan tangannya.

"Pulang bareng yukk Vi... Sopir gua ga bisa jemput nih" Ucap Ify sambil
menyelempangkan tasnya. Sivia berpikir sebentar. Tiba-tiba Alvin datang
menghampiri mereka berdua. Ify melirik Alvin sebentar.

"Yaelah... iya deh, iya, yang baru jadian.... gue pulang bareng agni
aja" Ify menghela napas sambil melirik bangku didepannya. tapi... "Lha
kok kosong? Agni mana? Nova agni mana???" Ify histeris. Yah secara,
cuma Agni doang yang rumahnya lumayan deket sama Ify.

"yaelah elu Fy, lama-lama kok sura lo lebih kenceng dari gua? Agni sih
udah pulang tadi, buru-buru banget malah" jawab NOva antai sambil
menyelempangkan tasnya. Ify mendengus kesal. Sivia menatap Ify prihatin.

"Yaudah Fy... gue pulangnya berng elo aja" ucap Sivia. Ify berbalik ke Sivia. Kemudian menggeleng cepat.

"Jangan! elo pulangnya sama Alvin aja.... gue bisa kok pake taksi.."
Tolak Ify. Gak enak. Sivia melirik Alvin. Alvin hanya mengangkat bahu.
Sivia berbalik ke Ify lagi. "Betul bisa?" tanya Siva. Ify mengangguk
lagi.

"Udahhh. Lo berdua aja. gue sendiri aja. Ga papa kok" Ucap Ify sambil
mengibas-ngibaskan tangannya. berusaha meyakinkan dua orang itu.
meskipun dia sendiri ga yakin.

"Oh ya udah. Yuk Vin" Ajak Sivia. "Dah Ify" Ucap Sivia sambil
melambaikan tangan ke Ify. Perbedaan yang kontras terjadi. Sivia
melambaikan tangan dengan ceria, sedangkan Ify keliatan ga bersemangat.

"Lo cemburu ya sama mereka berdua?" tanya seseorang. Ify berbalik dengan cepat.

"Idihhh. enak aja. Gue justru seneng mereka jadian. Sotoy lo!" jawab Ify manyun.

"trus? kenapa lo ga bersemangat gitu?" tanya Rio sambil berjalan mendekati Ify. fy langsung melengos.

"Gue pulang sendiri......" jawab Ify lemah. kemudianduduk lagi. "Lo kan
tau, gue ga hapal jalan kerumah gue dari sekolah." lanjut Ify

"Ck. Elo udah sekolah disini hampir 3 bulan juga" UcapRio sambil
mendecakan lidah. "Ya udah, gue pulang dulu" pamit Rio sambil berjalan
keluar kelas. Ify cengo. Hei! Rio gak ngebantuin gue nih? Ify dengan
cepat berlari menyusul Rio. Kemudian menahan pergelangan tangan Rio.

"Apaan?" Tanya Rio jutek. Ify manyun. Perasaan nih orang galak banget deh.

"Pulang bareng gue doong... yahhhh... plisssssssss" RAyu Ify sambil
masangin wajah paling manisnya. Rio menyentakan tangannya yang lagi
digamit Ify. Ify melongo.

"Do It with your self. Pulang aja sendiri" jawab Rio jutek sambil berjalan lagi.

"Ihhhh. Elo jutek amat sih. bantuin gue sesekali kek" dumel Ify
jengkel. "Ya udah, bakalan gue buktiin kalo gue bisa nyampe rumah gue
dengan selamat tanpa bantuan elo!" Nyolot Ify kambuh.

"YA udah" awab Rio cuek. Ify mendengus kesal. Gimana sih tuh orang?
baiknya cuma sehari doang! Ify memilih berjalan lewat arah yang
berlawanan dari Rio. Dari pada dipikir nguntit. Ify berjalan, pas udah
mau keluar gerbang, pundaknya ditepuk seeorang. Ify berbalik.

"Sendirian aja?" tanya cowok itu sambil tersenyum. Ify menyentakan tangan cowok itu yang masih tersampir dipundaknya.

"Bukan urusan elo" jawab Ify jutek. Sambil terus berjalan. Males dia
ngeliat cowok itu. MAu tau dia siapa? ya Debo. Cowo super nyebelin
kuadrat itu (maaf SOBADDEBO, just in story :)

"Dimana si Rio, pahlawan kesiangan itu?" tanya Debo. Ify berbalik, memutar bola matanya.

"Bukan urusan elo." jawab Ify. masih jawaban yang sama. Kemudian mempercepat langkahnya.

"Rio... cowo yang selalu jutek sama cewe. Selamanya juga bakalan jutek
sama cewe. Dan menurut gue, dia terlalu munafik." Ucap Debo. masih
menguntit dibelakang Ify.

"Atas dasar apa elo ngomong kayak gitu?" Tanya Ify mulai jengkel. Debo berjalan mendekati Ify.

"Oh... lo ngebelain dia? Jad ceritanya elo suka sama dia gitu? (Debo tau aja :p)" Tanya Debo sambil terus mendekati Ify.

"So? Kalo Iya kenapa? Ada masalah?" tantang Ify. Debo tersenyum sinis.

"Apa lebihnya Rio? Cowo munafik itu?" Tanya Debo sinis. Baru aja Ify mau ngejawab, Rio muncul.

"Ngapain lo Psycho?" tanya Rio sambil menatap Debo tajam. Ify berbalik.
Rio udah dibelakang Ify. "Gue tanya, mau lo apain Ify?" tanya Rio lagi.
Galak.

"Seperti biaasa. selalu jadipahlawan kesiangan" komentar Debo sinis. Rio tersenyum mengejek.

"Dan lo selalu jadi orangPsycho setiap saat" balas Rio. Ify yang
ditengah mereka berdua panik sendiri, takut dua cowo in tonjok-tonjokan.

"Bukannya tadi elo udah mau pulang? kenapa balik lagi?" Debo mencoba memanasi suasana.

"Gue cuma khawatir aja, kalo Ify dicegat manusia kaya elo. Taunya
betul." Jawab Rio santai. Tapi Ify bisa ngerasa bentar lagi dua manusia
ini bakal berantem.

"Duh......" Ify merintih. Cuma pura-pura doang.Biar ngalihin perhatian dua orang itu.

"Kenapa?" tanya mereka berdua bersamaan. Ify menggeleng.

"Yo... anterin gue pulang yaaa. Plissssss" rayu Ify lagi. Rio berpikir sebentar. Kemudian mengangguk.

"Ok." jawab Rio. Kemudian menarik Ify. "Ayo, cepetan"
* * *
"mampir dulu yo?" ajak Ify. Rio menggeleng.

"ga usah" jawab Rio. Tiba-tiba pembantu Ify keluar dari rumah.

"Non Ify udah pulang?" Tanya Bi Inem. Ify mengangguk. "Oh iya Non, saya
lagi bikin kue sus coklat tuh" lanjut Bi Inem. Mata Rio langsung
berseri-seri (udah mau ngalahin matanya Deva) "ya udah Non, Bibi ke
warung depan komplek dulu ya" pamit Bi Inem. Ify mengangguk.

"Kenapa Yo?" Tanya Ify heran ngeliat Rio yang mukanya udah berseri-seri. "naksir lo sama Bi Inem?" tebak Ify.

"Yee. Enak aja. Gini.... pembantu elo kan bikin kue sus tuh... gimana
kalo ebagai tanda trimakasih, lo kasih tuh kue buat gue?" ucap Rio
sambil cengengesan. Ify memutar bola mata.

"Kenapa udah beralih ke kue sus? ga Chitato lagi?" tanya Ify.

"Ga. Chitato ga bagus buat kesehatan, tapi gue masih tetep suka sih
hehehe. Jadi, boleh ga nih??" tanya Rio udah ga saba mau makan kue sus.

"Ya udah. Lo tunggu diteras. Gue ambilin dulu" perintah Ify sambil
memasuki Rumah. Rio dengan senang hati duduk diteras. Nunggu ify.
Kira-kira baru semenitan duduk, OZy pulang, bareng Deva.

"Assalamualaikum" Ozyngebuka gerbang. Deva nguntit dibelakang. Rio menatap Ozy.

'Oh.. jad ini adiknya Ify yang suka ngejailin Keke" Pikir Rio sambil
manggut-mannggut. OZy menaikan sebelah alis pas ngeliat Rio.

"kaka siapa?" tanya Ozy. Padahal dia udah nebak, pasti temennya Ify.

"temennya Ify. OZy ya?" tebak Rio. OZy mengangguk. makin heran, Rio tau namanya.

"Ohhh. pacarnya kak Ify?" Deva sotoy mode on. OZy melotot ke Deva.
"Taelah elo Zy... mata elo ngalahin mata gue tuh!" Ozy ga peduli.
Diliatnya Rio dari ujung rambut sampai ujung kaki (atau dari ujung kaki
sampai ujung rambut?ahh, whatever deh)

"bukan. Kamu temennya keke ya?" Tanya Rio ke OZy. Tapi yang
ngangguk-ngangguk semangat Si Deva. OZy juga ikut mengangguk. tapi
ragu-ragu. masih heran soalnya.

"kok kakak tau?" tanya OZy heran. wah... kayaknya orang yang didepan
gue peramal nih... jangan-jangan dia juga tau gue suka bkin puisi buat
ngejek-ngejekin Keke lagi...' pikir Ozy

"Iya. aku kakaknya Keke" jawab Rio sambil tersenyum. kali ini yang semangat Deva (lagi,lagi,lagi).

"Kakaknya Keke? Kenalin kak, Anak Agung Ngurah Deva Ekada Saputra,
temen sekelas Keke yang paling baik hati, tidak sombong, rajin
menabung, taat beribadah," Deva memperkenalkan diri panjang-lebar.

"dan matanya paling gede dikelas" sambung OZy yang langsung disetrum
Deva. Rio terkikik geli. Lucu juga dua anak ini... pantesaan Keke suka
senyum-senyum sendiri kalo lagi dirumah. sekelas sama pelawak sih...'
pikir Rio.

"Yo ini...... Deva? OZy? Udah pulang?" Tanya Ify yang lagi megang baki. Deva dan OZy mengangguk.

"Apaan tuh kak??" tanya OZy sambil melirik baki yang dibawa Ify.

"Kue sus dibkin sama bi Inem, masih ada tuh di dapur" jawab Ify. Deva dan Ozy saling tatap.

"Sikat!" mereka berdua berlari masuk ke rumah. Dengan tujuan utama
dapur. Ify geleng-geleng. semaentara Rio hanya tersenyum kecil.

"nih" Ify menaruh baki dimeja samping Rio. Gak pake lama, Rio langsung
nyomotin salah satu dari kue yang ada diatas baki. Ify mendecakan idah.
cepet amat nih anak.

"Hmmm, enak juga. kalo gini caranya sih... bakal sering-sering gue nganterin elo. asa ada kue sus" ucap Rio. Ify manyun.

"Yeee. emang rumah gue pabrik kue sus gitu ha?" Ify nyolot mode on.

"Taelah. galak amat. tapi yah.. kalo ada ajak-ajak gue ya. Masakan bibi
lo enak nih" Ify hanya geleng-geleng ngeiat Rio. Ga chitato, ga kue
sus...tampangnya kayak baru ngeliat makanan. "lho? Kok gak makan? enak
loh Fy.." tawar Rio kemudian menyomot kue itu dan menyodorkan ke Ify.
Berlagak mau nyuapin. Ify menggeleng.

"Ga ah. ngeliat Lo makan aja gue langsung kenyang." Tolak Ify sambil
menutup mulutnya dengan tangan. sambil terus geleng-geleng (kayak
anak-anak nolak makan itu looh ;p)

"Yeee. Ini Enak tau. pantes aja lo kurus terus...." Ejek Rio yang
langsung disumple mulutnya make kue sus. Yang disambut dengan senang
hati sama Rio. Jadinya malah kayak lagi suap-suapan. "Eh udah, udah
penuh mulut gue! Lo pikir nih mulut karung apa?" Ucap Rio sambil
menahan tangan Ify yang lagi asyik masukin kue sus ke mulut Rio.

"Eh, udah" Rio menahan pergelangan Ify. Ify sendiri terus cekikikan.
sewaktu Ify mengangkat muka, barulah di asadar kalo wajahnya deket
banget sama Rio. Jantung Ify berdegup keras. Apalagi Rio menatap Ify
tajam. Waktu seakan berhenti berpiutar. Yang terdengar hanya desiran
angin yang begitu lembut.

"Hehehehe, kenyang dah gue. sumpah enak banget!" Ucap Deva dari dalam rumah, kayaknya menuju ke teras.

"banget. ga nyesel kan lu datang ke sini" timpal Ozy. Mendengar suara
Deva dan OZy membuat Rio dan Ify tersadar. Rio melepaskan tangannya
yang memegang tangan Ify erat. Sedangkan Ify berjalan menjauhi Rio.

"Halo kakkkkk" sapa Deva yag udah nyampe teras. Kemudian ngeliat Ify
dan Rio bergantian. Heran, Ify sama Rio kelihatan salah tingkah. Rio
menghela napas berkali-kali, sedangkan Ify terus membuang muka, ga mau
ngeliat Rio. Ozy yang baru datang juga ga kalah heran. Ngeliat Ify yang
nyander di tembok sambil terus diem. Sedangkan Rio malah ga bergerak
sama sekali.

Sementara itu, Rio dan Ify sibuk sama pikran mereka sendiri. Ify heran
sama apa yang dia rasain. Heran sama debaran yang begitu keras.Heran
sama Rio yang ngeliat dia begitu tajam... heran sama betapa tenggeamnya
dia sama tatapan itu. Yang ngebuat dia terasa membeku.

Rio sendiri, heran, kenapa dia selalu pengen ada didekat cewek itu.
Tapi gengsinya yang selalu ngalahin keinginannya buat selalu bareng
Ify..... ataupun sekedar dsamping cewe itu.

"Kok pada diem-diemaaaannnn" OZy teriak make Toa yang ga tau dipinjem dari mana. Ify dan Rio tersentak.

"Kenapa?" tanya mereka berdua bareng. OZy mendecakan lidah. kayaknya 2
orang ini bener-bener dari dunia hayal, atau lagi tidur sambil mimpi.

"Kenapa? Kalian tuh yang kenapa! Ko ngelamun?" Tanya Ozy sambil menatap mereka berdua bergantian.

"Ngga apa-apa" jawab mereka berdua. tetep.. barengan.... Deva dan OZy
saling tatap. Tapi habis itu hanya ngangkat bahu. ga ngerti.
* * *
Rio termenung dipinggir kolam renang dirumahnya. Semenjak pulang dari
rumah Ify tadi, dia ga tenang. Keke yang lagi baca majalah di gazebo
hanya menatap kakaknya heran. Keke kemudian menghampiri Rio.

"Hoiiiiiiiiii Jangan ngelamun, ntar tenggelem!!" Tegur Keke sambil menepuk pundak kakaknya.

"ye elu Ke. Ngagetin aja."ucap Rio. Tapi dia kembali fokus ngeliat air
kolam yang tenang. Karna penasaran, Keke ikut-ikutan ngeliat. Tapi ga
ada yang aneh tuh. air hanya bergerak tenang karena desiran angin.
selain itu sepi.

"Taelahhh. Ngelamunin apa sih lo ka? serius amat? ngelamun aja serius!" celetuk Keke. Rio berbalik.

"Yee bawel lu ah"

"emang kaka kenapa sih??" tanya Keke penasaran dengan sikap kakaknya yang beda banget hari ini.

"Bukan urusan anak kecil. Wekkkk" jawab Rio sambil menjulurkan lidah.
Brukkkk. majalah yang dipegang Keke di pukulin ke puncak kepala Rio.
"Aduh. sakit kali Ke!" Ucap Rio gemes. Pengen rasanya ditenggelemin tuh
anak dikolam renang (beuhhh sadiss).

"Abisnya elu ka. ga kayak biasanya. tumben suka ngelamun.... HAyoooooo kakak kenapa????" goda Keke.

"Ngga, ngga kenapa-kenapa" elak Rio. Keke tersenyum simpul.

"Eh kak, gimana kabarnya kak Ify??" tanya Keke tiba-tiba. Yang ngebuat Rio langsung berbalik.

"Ha? Eh, baik-baik aja. masih hidup, masih bawel, masih nyolot" jawab Rio sekenanya.

"Masih cantik juga kaaannnn" goda Keke. Rio mendengus.

"Cantik sih cantik. tapi kayak mak lampir, bawel ngeselin"

"oh ya? Masa siiihhhh" Keke masih menggoda Rio.

"Yeee. anak kecil tau apa sihhh" Ucap Rio gemes sambhil menoyor
adiknya. Keke mngelus kepalanya yang ditoyor. "Huuu. mana ada cewe yang
mau sama kakak, kalo kakaknya galak begini! Gak dapat jodoh trus jadi
perjaka tua tau rasa lo!" ucap Keke kesel. Rio cengengesan.

"enak aja nyumpahin orang. pake jadi perjaka tua lagi! hee, gini-gini banyak yag ngantri jadi cewe gue tau!" ucap Rio pede.

"Hiii. yang ngantri pada katarak semua tuh kak... kayaknya kakak harus tanggung jawab" Ucap Keke sok tau.

"Yee. enak aja.."

"eh kak, emang kakak suka ya sama kak Ify?? Hayooo ngakuuuu" Goda Keke. Rio berbalik.

"Ngga lah. Siapa juga yang mau sama mak lampir cungkring begitu. Ogah!" Tolak Rio mentah-mentah. Keke tersenyum simpul.

"dari benci bisa jadi cinta loh kakkk" Goda Keke lagi.

"halah... kebanyakn nonton sinetron lo!" Ucap Rio kemudian bangung
berdiri. MAu balik kekamar, tapi kemudian membatalkan niatnya. dia
berbalik lagi, kemudian duduk disamping Keke. "eh ke.... cewek itu
paling suka apa sih?" tanya Rio tiba-tiba.

"Hah? Kok kaka nanya kayak gitu?c wah jangan-jangan bener nih dugaan
keke. Kakak suka yaa sama kak Ify?? Ngaku aja deh" Goda Keke

"Enggak" elak Rio.

"kalo ga ngaku, aku ga ngasih tau" keke sok jual mahal. Rio berpikir sebentar, kemudian menghela napas keras. terpaksa...

"Iya... ayo cepet kasih tau" desak Rio. Keke ketawa ngakak.

"Tuh kannn betul.... eh, trapi? Ntar gue bakalan ipar-an dong sama OZy?
Ishh najis tralala, trilili.." Delik keke. Rio menatap Keke gemas.

"Kee.... mau gue plintir lo?" tanya Rio ganas. keke nyengir,

"Versi Keke ya kak. Kalo cewek sih, baiasnya suka cowok yang romantis,
trus perhatian...pokoknya semacam tu deh!" Jelas keke Sok tau. Rio
manggut-manggut.

"Gue gitu gak?" Tanya Rio lagi.

"Nggak!" Jawab Keke cepat. "kakak tuh galak, seenaknya, ga peka sama
perasaan orang lain... ishhhh, ga ada baek-baeknya deh!" jawab keke
jujur-sejujur-jujurnya. DAn langsung siitak sama Rio.

"Kok jelek amat sih?" protes Rio.

"satu lagi, ga mau ngakuin kesalahan diri sendiri. Kalo kaka kayak gitu
terus... wah... ga jamin deh bakal punya cewek..." Ucap Keke sambil
geleng-geleng.

"yee. enak aja. sok tau lu" ucap Rio gemas.

'Oh iya, satu lagi" Ucap Keke udah siap-siap kabur. "Cungkring, item, jelek. Wekkkk" ledek Keke.

"Awas lo ya..."
* * *
Ify berjalan melewati samping lapangan bola basket sambil
mengutak-ngatik HPnya. Sesekali Ify tersenyum sendiri, soalnya Ify lagi
buka twitter, dan ngeliat tweet temen-temennya yang pada hancur-hancur
semua.

Mungkin emang nasibnya Ify yang emang lagi ga bagus, ato Bola basket
yang selalu pengen "mampir" ke jidat Ify, atau emang yang main tuh bola
ga hati-hati......

"BUkkkkk" Bola basket mengenai jidat Ify. Ify spotan terjatuh, dan mengusap jidatnya

"Duhhhh" erang Ify kesal "perasaan kepala gue kepentok bola basket mulu
deh. Nih bola naksir sama gue ato apa sih?" dumel Ify sambil melototin
bola yang ga bersalah itu. "Siapaa lagi yang mainin nih bola! Ga
hati-hati banget sih! nih bola dipasangin rem kek!" dumel Ify ga jelas.

"gue yag main" Ucap seseorang. Ify berbalik.

"Elo? Ihhh. Makanya mainnya hari-hati dong!" marah Ify sambil terus mengelus jidatnya. Rio memperhatikan jidat Ify.

"Merah tuh, jidat elo.." Ucap Rio sambil menunjuk Jidat Ify.

"Hah? Merah? luka gak? keliatan dari jauh gak? Aduhhh gawat nih..." Ify
jadi panik. "tutupin pake poni aja deh" ucap Ify sambil merapikan
poninya. Rio berjalan mendekati Ify, mengamati luka dijidat Ify. Ify
terbelalak. Jaraknya dengan Rio hanya beberapa centi. Bahkan Ify bisa
merasakan harum parfum Rio. JAntung Ify berdebar keras. Ify menunduk,
ga mau ngeliat Rio.

"Jangan nunduk, biar gue liat" Ucap Rio sambil mengangkat muka Ify. Rio
kemudian tersenyum. "Lho? Kok yang merah malah pipi lo?" ucap Rio
heran. Ify terbelalak. Emahg pipinya merah ya? uhhh maluuu. Rio mundur
selangkah. "make plester aja, lukanya kecil doang kok" saran Rio. Ify
menunduk kemudian mengangguk pelan.

"Hoiiiiiii!! Marioooo!Lo ngambi bola apa pacaran hah? Udah gosong nih
kita!" teriak Cakka dari tengah lapangan. Cakka sendiri udah mandi
keringat.

"Iya. Bawel lo ah" Ucap Rio sambi mendrible bola. sebelum Rio
meninggalkan Ify, Rio tersenyum, sangat manis. Ify yang ngeliat, bisa
ngerasain wajahnya mulai memerah lagi.
"Duh, mending gue langsung cabut dari sini daripada muka gue merah terus. malu-maluin aja" ucap Ify kemudian berjalan kekelas.

* * *
Ify sibuk nyatet PR yang dikasih Bu Winda. Sesekali Ify merenggangkan
tangannya. Buset dah Bu Winda. PR yang dikasih 20 nomor.... masa udah
SMA PRnya amsih banyak-banyak begini? ga jaman banget...

"Yak! selesai!" Ucap Ify sambil merenggangkan tangannya. Waktu
berbalik..... "Lha? Sivia? Sivia mana?" tanya Ify bingung. Ternyata
bukan hanya Sivia. Kelas udah kosong melompong. Tingga Ify sendiri
dikelas, bahkan pintu kelas udah ketutup.

Dengan cepat fy memasukan buku-bukunya kedalam tas. kemudian berlari
kearah pintu. tapi pas mau dibuka, Pintu itu gak bisa dibuka. kekunci.
Ify jadi panik. Digedornya pintu itu.

"Heiii buka! Gue masih didalam woyy!!" Terika Ify panik. "heiiii!! Ga
lucu! Woyyy!!" teriak Ify masih ngedor-ngedor pintu. Ga ada jawaban.
Sepi. Ify udah hampir nangis. "masa gue harus disini sendirian" Ucap
Ify terisak.

"Lo gak sendiri. mang gua apaan?" Ucap seseorang. Ify berbalik. Rio!
Lagi duduk diatas meja deretan belakang, disampingnya ada gitar. Ify
menatap Rio heran.

"Lo... muncul dari mana?" tanya Ify sambil berjalan mendekati Rio.

"Gue udah disini dari tadi" jawab Rio enteeng sambil mengambil
gitarnya. dan mulai memetiknya. Ify menatap Rio heran. Rio mulai
bernyanyi

Saying I love you
Is not the words
I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say
But if you only knew
How easy
It would be to
Show me how you feel
More than words
Is all you have to to
To make it real
Then you wouldn't
Have to say
That you love me
Cause I'd already know

What would you do
If my heart
Was torn in two
More than words
To show you feel
That your love
For me is real
What would you say
If I took
Those words away
Then you couldn't
Make things new
Just by saying
I love you
More than words
More than words

Now that I've tried to
Talk to you
And make you understand
All you have to do
Is close your eyes
And just reach out your hands
And touch me
Hold me close
Don't ever let me go
More than words
Is all I ever
Needed you to show
Then you wouldn't
Have to say
That you love me
'Cause I already know


Suara Rio yang lembut, petikan gitar yang sesuai banget sama suara Rio, ngebuat Ify speechless.

"Lagunya bagus" ucap Ify kikuk. Rio tersenyum lembut.

"Itu agunya westife" jawab Rio. Hening sesaat.

"Hmmm" Ucap mereka berdua bersamaan.

"Lo aja duluan" ucap Rio. Ify mengangguk.

"Jadi gini... gue mau minta maaf sama elo. selama ini gue udah galak
banget sma elo. gue mau... kita temenan aja deh sekarang..." Ucap Ify
pelan. Rio tersenyum, kemudian turun dari meja.

"Gue mau ebih dari itu Fy.... bukan hanya temenan. Tapi gue mau,elo
jadi orang yang gue sayangin, bukan sebagai sahabat, tapi.." Rio
menggantungkan kata-katanya. Ify menunggu kelanjutan ucapan Rio. " Gue
bukan cowok yang romantis, gue juga ga bisa ngerangka kata-kata, tapi
gue orang yang to the point, ga mau basa-basi... jadi... Alyssa
saufika, elo mau ga jadi cewek gue?" tanya Rio.

Ify terbelalak. Gak percaya sama ucapan Rio barusan.... barusan.... RIO
nembak dia? Mimpikah? cwowok yang selalu jadi rival dia dan selalu
berabten tiap saat? Rio menatap Ify dengan harap-harap cemas. Berharap
Ify menjawab ya....

"Fy... jwaban elo?" tanya Rio. Ify mengigit bibir. Ga ada jawaban lain... selain...

"Ya, gue mau" jawab Ify. Rio tersenyum lega. didekatinya Ify.

"Thanks Fy, gue pikir lo mau nolak gue" Ucap Rio senang. baru aja mau meluk Ify....

"Yeeeeeeeeeeeee!!!!" teriak mereka, dari jendela luar kelas, muncul
banyak kepaa yang sedari tadi ngintip, Alvin, Sivia, Agni, Nova, Cakka,
Ray... bahkan temen-temen sekelas, mereka berhamburan masuk kelas.

"Cieeeeeeeeeee" Goda mereka bersamaan.

"Yessss. Kita ditraktir!!! Horeee!" teriak ray seneng.

"Benci jadi cinta nihhh" Goda Agni

"Ishhh so sweet..." goda Nova.

"Lo berdua bikin deg-degan tau ga! lama amat sih!" Ucap Cakka. Ify
ternganga. Ya ampuuuuuun! Jadi dari tadi pada ngintip nih semua? Ihh
maluu >_br/>

"Yesss! traktiran dobel yaaa! Alvin+Via sendiri, Rio Ify sendiri yey!"
Teriak Ray, yang disambut sorakan anak-anak sekelas. Rio dan Ify saling
bertatapan.

"Punya uang?" tanya Rio. Ify cengengesan. Mereka berdua menatap pasrah
ke nak-anak sekelas. Harusnya jadian pas tanggal muda.... >_br/>
* * *
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Cinta si nyolot dan mr. perfect part 20B : RiFy (LAST PART!!)"

Posting Komentar